Tipologi Aksara Sunda 2

Holle (1882: 15-18) menguraikan secara jelas mengenai tipologis aksara pada prasasti-prasasti dan piagam tersebut dengan menyatakan sebagai modern schrift uit de Soendalanden, en niet meer dan ± 1500 jaar oud ‘aksara modern dari Tatar Sunda, dan berusia tidak lebih dari sekitar 1500 tahun’. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aksara Sunda Kuno ini merupakan hasil daya cipta atau hasil kreasi orang Sunda.
Adapun beberapa naskah lontar Sunda Kuno yang menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuno tampak dalam contoh lempiran naskah-naskah berikut:

Urutan abjad aksara Sunda Kuno berbunyi kaganga cajanya tadana pabama yarala wasaha, jadi ada 18 buah aksara pokok ngalagena ditambah 7 buah aksara swara (a, é, i, o, u, e, dan eu).
Susunan bunyi aksara kaganga seperti ini sama dengan susunan bunyi aksara di wilayah Sumatera, juga aksara Jawa Kuno. Di Indonesia, ada sekitar 12 jenis aksara daerah, yaitu aksara-aksara: Bali, Batak, Bengkulu, Bima, Bugis, Jawa, Komering, Lampung, Makasar, Pasemah, Rejang, dan Sunda.
Perlu dikemukakan bahwa aksara Sunda Kuno, selain dipakai untuk merekam bahasa Sunda Kuno juga pernah digunakan untuk menuliskan bahasa Arab dan bahasa Jawa (Cirebon) berkaitan dengan proses pengembangan syiar Islam di Tarar Sunda.
Naskah yang boleh dikatakan paling muda yang memakai aksara dan bahasa Sunda Kuno berjudul Carita Waruga Guru, ditulis pada akhir abad ke-18 Masehi dengan menggunakan bahan kertas Eropa.

sumber: Tim Direktori Aksara Sunda 2008, Direktori Aksara Sunda untuk Unicode

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: